Selasa, 24 Desember 2013

Psikologi umum

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sesuai dari katanya bahwa psikologi terdiri dari dua kata yang mempunyai arti. Psikologi ini merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Dimana ilmu ini sangat penting untuk kita pelajari sebagai mahasiswa dan mahasiswi Pendidikan Agama Islam yang akan di aplikasikan nanti kalau sudah masuk dunia mengajar dan terjun di masyarakat.
Perhatian pada psikologi yang terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Maka bagaimana perhatian tentang perhatian psikologi umum.
Pengamatan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang cerdas. terjadi terhadap suatu proses dengan maksud merasakan dan memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan.
Penanggapan itu umumnya pengahajatan kembali bekas-bekas yang diterima dahulu dari pengamatan, yang sekarang digambarkan kembali dalam kesadaran.
Dalam makalah ini akan dibahas satu persatu tentang perhatian terhadap psikologi umum beserta pengamatan dan tanggapannya.
B.     Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakanag yang telah dipaparkan diatas, maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan Psikologi ?
2.      Apa yang dimaksud dengan Perhatian Psikologi Umum ?
3.      Apa yang dimaksud dengan Pengamatan Psikologi Umum ?
4.      Bagaimana Tanggapan mengenai Psikologi Umum ?
C.    Tujuan Pembahasan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka adapun tujuan dari pembuatan makalah tentang bab Perhatian, Pengamatan dan Tanggapan Psikologi Umum ini, yaitu:
1.      Mahasiswa dan mahasiswi mampu memahami arti dari Psikologi itu sendiri.
2.      Mahasiswa dan mahasiswi mampu memahami tentang perhatian dari psikologi umum ini.
3.      Mahasiswa dan mahasiswi mampu mengamati psikologi umum ini.
4.      Mahasiswa dan mahasiswi mampu memberikan tanggapan tentang psikologi umum ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Psikologi
Semuanya itu bersumber dari tuhan yang maha esa sebagai pencipta segala sesuatu,dan hasil ciptaan itulah yang menjadi obyek atau sasaran dari berbagai cabang ilmu pengetahuan. Karenanya sebagai sumber ilmu pengetahuan adalah tuhan yang Maha Esa. Yang lahir pertama kali adalah filsafat, yang membahas hakekat segala sesuatu. Dari padanya lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan, oleh karna itu dalam semua ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itu akan dijumpai tokoh-tokoh filsafat kuno seperti, socrates, plato dan aristoteles yang ikut mengembangkan fikiran dan penemuannya dalam ilmu-ilmu tersebut sehinga tokoh-tokoh nanti akan dijumpai juga dalam mempelajari psikologi serta cabang-cabang psikologi[2].
“Psikologi“ berasal dari perkataan Yunani ”Psyche” yang artinya jiwa, dan ”Logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Secara etimologi psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latarbelakangnya[3].
Menurut Rosleny Marliany[4] psikologi dapat diartikan ilmu jiwa. Makna ilmu jiwa bukan mempelajari jiwa dalam pengertian jiwa sebagai soul atau roh, tetapi lebih mempelajari kepada gejala-gejala yang tampak dari manusia yang ditafsirkan sebagai latar belakang kejiwaan seseorang atau spirit dari manusia sebagai mahluk yang berjiwa.
Psikologi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sifat-sifat kejiwaan manusia dengan cara mengkaji sisi perilaku dan kepribadiannya, dengan pandangan bahwa setiap perilaku manusia berkaitan dengan latar belakang kejiwaannya[5].
Sesungguhnya tiap-tiap orang perlu sekali mengetahui dasar Ilmu jiwa umum, dalam pergaulan hidup sehari-hari, Ilmu jiwa perlu sebagai dasar pengetahuan untuk dapat memahami jiwa orag lain. Kita dapat mengingat kembali sesuatu yang pernah kita amati. Gambaran ingatan dari sesuatu pengamatan disebut tanggapan, pemakalah disini akan mengupas habis tentang masalah tanggapan dan hal-hal yang ada disekitarnya.
B.  Perhatian
Perhatian diambil dan dimliki oleh pikiran, perhatian tersebut dicerna dalam bentuk yang jelas dan tajam, pencernaan perhatiaan tersebut salah satunya dapat dimungkinkan secara bersamaan atau banyak objek, bisa disebut juga kereta pemikiran karena bisa diakukan berulang-ulang. Banyak objek yang dimaksud yaitu banyak yang diperhatikan. Karena kita banyak perhatian ke banyak objek maka kita akan setres[6].
Perhatian adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Perhatian timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses pengamatan. Bahakan orang dapat tiba, tiba merasa tertarik kepada orang lain dengan sendirinya karena keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya[7].
Perhatian dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Proses perhatian kadang-kadang tidak berjalan atas dasar logis rasional, melainkan berdasakan penilaian perasaan. Salah satu contohnya orang tiba-tiba tertarik dengan orang lain, seakan-akan dengan sendirinya. Tertariknya ini tidak pada salah satu cirri tertentu dengan orang itu, tapi keseluruhan cirri pola tingkah lakunya[8].
Proses perhatian dapat pula berjalan secara perlahan-lahan secara sadar dan cukup nyata dalam hubungan dua atau lebih orang. Misalnya hubungan cinta kasih antara manusia, biasanya didahului dengan perhatian. Dengan demikian perhatian hanya akan berlangsung dan berkembang dalam relasi kerja sama antara dua orang atau lebih, bila terdapat saling pengertian[9].
Tokoh-tokoh teori individualism, Adam Smith (1759) dan Herbert Spencer (1870) menerangkan Prinsip-prinsip perhatian untuk menerangkan tindakan-tindakan yang semata-mata mengejar keuntungan sendiri atas dasar pikiran, tetapi juga dikemudikan oleh perhatian terhadap orang lain, yang tanpa itu sebenarnya kehidupan sosial itu tidak mungkin ada[10].
Adam Smith[11] membedakan dua bentuk dasar daripada perhatian :
1.   Yang menimbulkan respons yang cepat hamper seperti reflex. Misalnya :
·   Kalau kita melihat orang dipukul tongkat dengan keras kita merasa ngeri.
·   Bila kita melihat pemain akrobat yang sedang berjalan di atas tali yang tinggi,kita merasa tegang.
·   Jika melihat demontrasi terjun paying yang tidak mengembang, kita memejamkan mata.
2.   Yang sifatnya lebih intelektual kita dapat perhatian terhadap seseorang, meskipun kita tidak merasakan sebagai yang ia rasakan. Kita akan mengucapkan syukur dan menyatakan perhatian bila seseorang berhasil dalam usahanya, walaupun kita sendiri tidak berhasil atau susah.
Menurut Herbert Spencer[12] (1870) bahwa perhatian terdiri dari dua bentuk, yaitu :
1.   Prespectively presentative yang cepat seperti reflex.
2.   Representative (yang sadar refleksif).
Theodore Ribot[13] (1897) pengarang buku yang berjudul Psychology of the Emotion, ia menekankan pada peranan perhatian yang dikatakan sebagai a foundation of all social existence. Ribot membagi perhatian menjadi 3, yaitu :
1.   Type primitive atau otomatis, yang dapat diterangkan  dengan respon bersyarat.
2.   Refleksif, yang mana seseorang sadar dalam dirinya terhadap keadaan jiwanya. Ia tahu, bahwa ia merasa apa yang dirasakan orang lain, biarpun ia sendiri tidak mengalaminya.
3.   Type yang intelektual, yaitu rasa setia, rasa toleran, dan philantropi: bentuk ini tidak diarahkan pada orang tertentu, tetapi mempunyai corak-corak yang lebih umum dan abstrak.
Menurut Max Scheler[14] perhatian itu dibagi dalam delapan bentuk, yaitu:
1.   Einfuhlung, yaitu proses yang primitif, proses refleks sepertiyang dikatakan oleh smith, Spencer, Ribot, dan lain-lain. Jika diterjemahkan dalam bahasa inggris mungkin dengan kata: empathy yang menunjukan motor tiruan, yang tidak didasarkan padadasar pikiran.
2.   Meiteinander fuhlung. Yang menekankan pada pengertian “perasaan spontan” yaitu kalau dua orang atau lebih bereaksi dengan cara yang sama pada rangsangannya yang sama (misalnya reaksiyangdiberikan penonton bioskop).
3.   Gefuhls anstechung. Menunjukan tertekannya perasaan melalui induksi dan tidak sosial seperti mobs.
4.   Einsfuhlung.Yaitu kalau terjadi pengamatn perasaan misalkan anak bermain boneka mengamati ibunya.
5.   Nachfuhlung. Ini lebih disadari dan dibedakan seperti pernyataan: “saya tahu apa yang engkau rasakan”. Dalam hal semacam ini kita dapat membedakan dengan jelas perasaan kita sendiri dengan perasaan orang lain.
6.   Mitgefuhl. Yaitu bila orang dapat dengan tepat menimbang perasaan orang lain dan biasanya menilainya secara positif.
7.   Menshenliebe. Yaitu kalau orang tidak hanya mengetahui keadaan jiwa orang lain, tetapi menaruh hormat kepadanya.
8.   Akomische Person und Gottes liebe. Yaitu perhatian yang mistis yang menjadi dasar religi dan pandangan hidup kesatuan jiwa dengan Tuhan.
Jadi menurut Prof. F. Patty dkk menyimpulkan bahwa perhatian harus bertumpu / Fokus pada satu objek agar perhatian tersebut dapat menghasilkan out put atau informasi yang jelas. Dengan demikian kecepatan dan kemudahan menemukan informasi akan dapat diperoleh[15].
C. Pengamatan
Pengamatan dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi sama dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Misalnya pengamatan seorang anak laki-laki untuk menjadi sama seperti ayahnya atau seorang anak perempuan untuk menjadi sama dengan ibunya. Proses pengamatan ini mula-mula berlangsung secara tidak sadar (secara dengan sendirinya) kemudian irrasional, yaitu berdasarkan perasaan-perasaan atau kecenderungan-kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional, dan yang ketiga pengamatan berguna untuk melengkapi system norma-norma, cita-cita dan pedoman-pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu[16].
Menurut Agus Sujanto[17] dalam bukunya yang berjudul Psikologi Umum mengatakan bahwa pengamatan dalam psikologi adalah proses mengenal dunia luar dengan menggunakan indera. Mengamati sesuatu dengan menggunakan alat-alat indra kita. Yaitu :
1.   Indra penglihatan.
2.   Indra pendengar.
3.   Indra pembau.
4.   Indra perasa atau pengecapan.
5.   Indra peraba.
6.   Indra keseimbangan.
7.   Indra perasa urat daging (kinestesi).
8.   Indra perasa jasmaniah (organis).
Menurut pengamatan itu melalui tiga saat[18] :
1.   Saat alami (saat physis) : saat indra kita menerima perangsang dari alam luar.
2.   Saat jasmani (saat physiologis) : saat perangsang itu diteruskan oleh urat syaraf sensorik ke otak.
3.   Saat rohani (saat psychis) : saat sampainya perangsang itu ke otak, kita menyadari perangsang itu dan bertindak.
Adapun syarat-syarat terjadinya pengamatan[19] adalah :
1.   Ada perhatian kita kepada perangsang itu.
2.   Ada perangsang yang mengenai alat indera kita.
3.   Urat syaraf sensoris harus dapat meneruskan perangsang itu ke otak.
4.   Kita dapat menyadari perangsang itu.
D. Tanggapan
Secara tepat tanggapan belum bisa didefenisikan. Hanya dapat didefinisikan secara garis besar dan bersifat umum. Jadi tanggapan adalah gambaran pengamatan yang tinggal di kesadaran kita sesudah mengamati[20].
Penanggapan itu umumnya ialah pengalaman kembali atau pengahajatan kembali bekas-bekas yang diterima dahulu dari pengamatan, yang sekarang digambarkan kembali dalam kesadaran. Jadi tanggapan ialah bekas atau gambaran dari sesuatu pengamatan, yang tinggal dalam lubuk jiwa kita sehingga boleh disebut gambaran ingatan[21].
Tanggapan erat hubungannya dengan berfungsinya ingatan, ketetapan dan kejelasan. Tanggapan tergantung pada derajat kompleksitas situmulus yang asli dan pada ketelitian pengamatan indra, serta pada faktor ingatan yaitu[22] :
1.   Tanggapan Reproduksi
Suatu tanggapan dianggap sebagai reproduktif, bila tanggapan itu menunjukkan pengingatan kembali suatu benda, kejadian, atau situasi, yang memberikan suatu pengalaman sensoris atau pengamatan masa lalu. Setiap hal dari pengindraan dapat terlibat. Suatu tanggapan ingatan mungkin berupa pendengaran, penglihatan, suhu. Rasa sakit, penciuman, atau kinestesis.
Suatu tanggapan yang diiangat tentang pngalaman-pengalaman lalu cenderung berbeda-beda dalam kejelasannya sesuai dengan kesederhanaa nya atau kekompleksannya, dan juga sesuai dengan jumlah pengalaman mengenai situasi pengindraan yang asli. Misalnya, tanggapan uang logam lima sen akan jauh lebih jelas untuk sebagian besar orang-orang dari pada ruang tamu seorang teman.
2.      Tanggapan Imaginer
Tanggapan bukanlah selalu hanya reproduksi pengalaman-pengalaman lalu. Banyak gambaran-gambaran mental (Tanggapan) adalah hasil dari suatu syntese pengalaman-penglaman masa lalu, hal ini disebut tanggapan imaginer yang berdasar kepada penglaman-penglaman lalu, tetapi yang mengambil suatu bentuk baru dan dapat dianggap sebagai “Penemuan, pembacaan hasil-hasil fiktif (khayalan dan arsitik) adalah contoh-contoh dari jenis tanggapan ini. Mimpi malam dan siang hari meliputi tanggapan reprodukti dan sintetis.
3.      Tanggapan Halusinasi
Unsur-unsur emosi mimpi menjadi faktor-faktor yang kuat dalam perkembangan halusinasi. Tanggapan halusinasi meliputi pembentukan gambaran-gambaran yang tak berhubungan dengan kenyataan tetapi yang di proyeksi kepada dunia yang nyata. Dalam bentuk-bentuk tartuntu gangguan emisional yang keras, misalnya, pasien dapat melapurkan melihat malaikat atau mendengar suara-suaranya.
4.      Tanggapan Editis
Ada sementara orang yang sudah mengamati sesuatu mendapatkan tanggapan yang sangat jelas dan ingat betul sampai mendetail. Tanggapannya sangat terang seterang pengamatan. Tanggapan semacam ini disebut Tanggapan Editis.
Menurut prosesnya, tanggapan berlainan dengan pengamatan. Ada perbedaan antara pengamatan dan tanggapan[23], diantaranya yaitu :
1.   Pengamatan masih memerlukan perangsang, sedang tanggapan tidak lagi.
2.   Pengamatan memerlukan tempat dan waktu tertentu, sedangkan tanggapan tidak lagi.
3.   Pengamatan lebih jelas daripada tanggapan.
Adapun persamaan di antara tanggapan dan pengamatan. Persamaannya yaitu keduanya berlangsung selama masih ada perhatian dan bersifat perseorangan[24].
Dengan indra kita dapat mengamati segala sesuatu. Sehingga di dalam kesadaran kita tinggalah tanggapan. Karena itu kita dapat mengingat kembali apa yang kita indra. Tiap-tiap orang mempunyai tanggapan sendiri-sendiri, biasanya digolongkan menjadi beberapa tipe, diantaranya yaitu[25] :
1.   Tipe visual. Artinya orang itu mempunyai ingatan yang baik sekali bagi apa yang telah dilihatnya.
2.   Tipe auditif. Artinya orang itu dapat mengingat dengan baik sekali bagi apa yang telah didengarnya.
3.   Tipe motorik. Artinya orang itu mempunyai ingatan yang baik sekali bagi apa yang telah dirasakan geraknya.
4.   Tipe taktil. Artinya orang itu mempunyai ingatan yang baik buat segala yang telah dirabanya.
5.   Tipe campuran. Artinya kekuatan tiap-tiap indera sama saja, dan mempunyai ingatan yang sama kuatnya buat segala yang telah pernah di inderanya.
Dengan tanggapan  kita dapat mengasosiasi dan mereproduksi. Dalam artian mengasosiasi adalah sangkut paut antara tanggapan-tanggapan dan saling mereproduksi. Sedangkan mereproduksi adalah daya jiwa kita yang dapat menimbulkan tanggapan-tanggapan kesadaran kita[26].

BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sesuai dengan pemaparn yang telah dijelaskan di atas. Maka dapat kami simpulkan sebagai berikut :
1.   Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
2.   Perhatian merupakan perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Perhatian timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses pengamatan.
3.   Pengamatan dalam psikologi adalah proses mengenal dunia luar dengan menggunakan indera.
4.   Didefinisikan secara garis besar dan bersifat umum bahwa tanggapan adalah gambaran pengamatan yang tinggal di kesadaran kita sesudah mengamati.
B.     Rekomendasi
Dalam pembahasan Perhatian,Pengamatan dan Tanggapan Psikologi Umum ini tentu kita sebagai mahluk individual dan sosial tidak akan lepas sesuai dengan apa yang kita rasakan. Ternyata jiwa yang kita rasakan ini berawal dari perhatian terhadap jiwa, kemudian kita mengamati dan mampu memberikan tanggapan. Namun kita harus dapat mengolah jiwa ini dengan baik agar jiwa kita ini bisa menjadi baik.
Kami minta maaf kepada semua pihak apabila dalam penyusunan makalah ini masih ada kata atau apa saja yang menyinggung perasaan pembaca. Kami selaku penyusun akan menerima kritikan dan saran dari pembaca dengan lapang dada dengan tujuan agar makalah ini bisa lebih baik lagi. Amin.
Lampiran 1
DAFTAR PUSTAKA
Patty MA, Prof. F. Dkk. 1982. Pengantar Psikologi Umum. Usaha Nasional : Surabaya.
Marliany, Rosleny. 2010. Psikologi Umum. CV Pustaka Setia : Bandung.
Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial. PT Rineka Cipta : Jakarta.
Sujanto, Agus. 2005. Psikologi Umum. Pustaka Bani Quraisy : Bandung.
Ardhana, Sudarsono. 1963. Pokok-Pokok Ilmu Jiwa Umum. Usaha Nasional : Surabaya.

Rabu, 18 Desember 2013

belajar psikologi

Psikologi

TES GRAFIS SEBAGAI TES PROYEKSI DAN ASESMEN KEPRIBADIAN : Tes psikologi adalah pengukuran tingkah laku yang objektif dan standar, yaitu : - Kepastian penggunaan materi - Batas waktu - Instruksi - Permulaan demonstrasi - Cara menangani pertanyaan dari testee - Situasi tes - Suara tester, ekspresi wajah - Norma TES GRAFIS SEBAGAI TES PROYEKSI DAN ASESMEN KEPRIBADIAN Tes psikologi ada 2 wilayah pengukuran : 1. Mental tes , misal: tes kecerdasan dan bakat 2. Tes afektif/kepribadian, misal inventory, tes proyektif, grafis Fungsi tes kepribadian : untuk mengukur perbedaan antar individu atau antara reaksi-reaksi individu pada peristiwa yang berbeda TES GRAFIS SEBAGAI TES PROYEKSI DAN ASESMEN KEPRIBADIAN - Tes proyeksi : eksternalisasi aspek-aspek psikis, terutama aspek-aspek ketidaksadaran ke dalam suatu stimuli yang kurang atau tidak struktur yang sifatnya ambigu.Misal :tes grafis, SSCT, TAT-CAT, Tes Rho. KLASIFIKASI TEKNIK PROYEKTIF : 1. Associative techniques Subjek menjawab stimulus dengan perkataan, ide-ide yang pertama kali muncul. Misal : Tes Rho 2. Construction Procedures Subjek mengkonstruksi sebuah produk, misal: cerita TAT-CAT 3. Completion tasks Melengkapi kalimat atau cerita 4. Choice Ordering Device Mengatur kembali gambar, mencatat referensi atau semacamnya.misal : Szondi test 5. Expressive methods Dengan gambar, cara dalam menyelesaikan sesuatu yang dievaluasi Misal : grafis, warteg KARYA GRAFIS DAN TES GRAFIS : - Karya grafis : segala macam bentuk coretan, tulisan tangan, gambar dan lukisan yang dikerjakan dan dihasilkan manusia atas dasar intensionalitas, faktor-faktor internal. - Tes Grafis : salah satu teknik proyeksi yang digunakan untuk memahami kepribadian seseorang dalam bentuk gambar. Tes grafis terdiri dari : BAUM (gambar pohon), DAP (Draw a Person), HTP (House Tree Person) KEDUDUKANTES GRAFIS : - Sebagai tes proyeksi - Sebagai tes perkembangan (kognitif) - Sebagai tes motorik DASAR TES GRAFIS : 1. Gestalt psychology : melihat keseluruhan 2. Psycoanalysis VALIDITAS DAN RELIABILITAS :  Cassel, Johnson, dan Burns, 1958, dengan membuat kriteria skoring DAP awalnya memiliki reliabilitas 0, 33, kemudian dilakukan kriteria skoring lagi, hasil menjadi 0,77.  Faktor yang mempengaruhi kesulitan untuk mengukur validitas dan reliabilitas : - prosedur skoring dalam tes menggambar kurang obyektif - Variasi gambar, sehingga sulit untuk melakukan tes kembali (retest). MANFAAT DAN KETERBATASAN  Manfaat :sebagai salah satu alat tes psikologi untuk mengungkap kepribadian.  Keterbatasan : - tidak mengikuti prosedur formal untuk standarisasi konstruksi tes administrasi dan petunjuk skoring yang tidak konsisten - Norma interpretasi yang kurang sistematis - Obyektivitas skoring minimal - Interpretasi didasari akal sehat - Reliabilitas dan validitas yang kurang - Kurang ada penelitian yang dikaitkan dengan budaya untuk petunjuk interpretasi Strategi mengatasi : sebaiknya dikombinasikan dengan alat tes lain apabila digunakan untuk menegakkan diagnosis. SEJARAH PERKEMBANGAN TES GRAFIS DAN ANALISIS DASAR TES GRAFIS : Sejarah tes grafis : - Tes psikologi pertama-tama umumnya untuk mengukur intelegensi dan prestasi sekolah, hanya beberapa yang ditujukan utk tes kepribadian - Di AS, pertengahan 1930an dimulai lebih bebas dalam interpretasi tes yang mengukur kemampuan mental dengan metode kualitatif - Tes menggambar, awal tujuan utk mengukur intelegensi secara kaku SEJARAH TES GRAFIS : BAUM - Tokohnya adalah Emil Jucker,yang awalnya untuk pemilihan jurusan di sekolah dan dikembangkan oleh Charles Koch - Alasan memilih pohon (Jucker) : - Pohon selalu tumbuh dan berkembang - Hasil penelitian budaya menunjukkan bahwa pohon memiliki makna penting bagi manusia dan pohon dianggap mewakili manusia SEJARAH TES GRAFIS :DAP 1) 1885 : pemanfaatan gambar utk memahami pribadi seseorg 2) 1900-1915 : studi hasil gambar 3) th 1920 -1926, DAP dirancang oleh Florence Goodenough, - menulis “measurement of inteligence by draawinngs” - dipublikasikan pertama kali untuk menilai kapasitas intelegensi anak - Anak diminta dg cara sederhana”menggambar manusia” dan kemudian disediakan pensil dan kertas putih kosong utk menggambar. - Tujuan : utk menilai IQ berdasar jmlh detail dlm menggambar, diikuti dg asumsi bahwa ketepatan dlm menggambar mempengaruhi fungsi intelektual anak 4) thn 1936 oleh Harris - mempublikasikan versi baru dr riset Goodenough (Goodenough-Harris D.AP.) - Subyek diminta membuat 3 gambar : 1 gambar manusia laki-laki, satu gambar wanita, 1 gambar menurut diri sendiri - Evaluasi gambar dilakukan terpisah, gamabr laki-laki dan perempuan dikembangkan norma secara tersendiri - Sebagian besar digunakan utk menilai intelegensi, tidak utk menilai sifat-sifat dasar kepribadian atau dasar dari konflik 5) Th 1949, Karen Machover - Kurang puas dengan pemakaian DAP yang hanya utk menilai intelegensi - Berdasar pengamatan klinik, mengembangkan metode penilaian yang lebih teliti dari Goodenough utk menilai kepribadian - Tugas tes : subjek diminta menggambar seorang manusia, jika selesai diberi kertas kosong lagi dan diminta menggambar manusia lagi dengan jenis kelamin yang berbeda, kmd diminta memberi keterangan gambar,menceritakan gamabrnya serta menjawab pertanyaan tentang umur, sekolah, pekerjaan, keinginan, sifat-sifat kepribadian, serta sikap-sikap terhadap keluarga SEJARAH TES GRAFIS:HTP : 1. Th 1949, JN Buck - Mempublikasikan House Tree Person (HTP) - Pertama-tama merancang prosedur tes menggambar utk menilai penyesuaian kepribadian 2. 1952,1971, Jolles - Mengembangkan teknik dari JN. Buck dengan tiga cara prosedur : menggambar dengan pensil tdk berwarna, fase menanyai, menggambar dengan pensil tdk berwarna - Prosedur administrasi : individu diberikan kertas putih kosong posisi horisontal, kemudian diberikan instruksi “gambarkan saya sebuah rumah”, jika sudah selesai diberikan lagi sebuah kertas dengan posisi vertikal “gambarkan saya sebuah gambar manusia” - Variasi dari prosedur gambar, akhirnya menggambar tersebut akhirnya menjadi populer dalam bentuk seseorang diberikan kertas dalam posissi horizontal dan seseorang diminta menggamabr dengan instruksi “gambarkan saya sebuah gambar dengan isi gambar ada rumah, pohon dan manusia. Dasar interpretasinya : melihat tipe gamabr, komposisi dalam menggambar, dan hubungan antara gambar, jika perlu dapt pula diminta keterangan gambar yang dpt berguna untuk mengungkapkan perasaan seseorang dan sikap-sikapnya yang diwujudkan dalam bentuk gambar. SEJARAH TES GRAFIS:WARTEGG - Latar belakang dr gestalt psychology atau Ganzheit Psychology dikembangkan pada University of Leipzig oleh F. Krueger dan F. Sander dengan asumsi bahwa “tidak hanya obyek pengalaman, tetapi subyek yang mengalami hrs dilihat sebagai suatu struktur. - Sender menciptakan teknik “Phantasie test”, subyek dihadapkan pada materi drawing completion test (DCT), yang menghasilkan sifa struktural khas dari subyek. - Keberhasilan Sender mendorong Dr. Ehrig Wartegg untuk melanjutkan penelitian tsb, akhirnya menemukan tes wartegg /DCT (drawing completion test )/WZT (Wartegg Zeichen Test) yang dipakai sekarang ini. TAHAP PERKEMBANGAN KARYA GRAFIS 1. Tahap coretan (sribbing) 2. Tahap ciptaan subjektif : Sesuai dengan persepsi subjek sendiri 3. Tahap ciptaan objektif : Sesuai kenyataan yang ada pada gambar PERKEMBANGAN UMUR DALAM MENGGAMBAR: - 2 th : bentuk gambar scribble/cakar ayam, gerakan otot belum terarah dan masih tdk teratur, sudah dapat membuat titik-titik dan garis-garis pendek, dpt menggerakkan pensil di kertas dan mengisi kertas dg gambaran-gambaran yang tidak umum dan menggambar kertas dengan posisi tegak. - 3th: dpt menggambar lingkaran, ikal (loop), lengkung dan garis. Obyek-obyek yang belum realistik diidentifikasikan sebagai gambar ”ayah” dan ”ibu” - 4 th : dpt menyusun loop, lingkaran dlm urutan mendatar, mengkombinasikan garis dan lingkaran sebagai representasi gambar tangan dan jari, dpt menggambar dari sebelah kiri ke arah sebelah kanan kertas dalam tugas menggambar yang berbeda-beda - 5th : mampu membuat kombinasi antara lingkaran, lengkung dan garis serta titik-titik untuk membuat obyek yang dikenal, mampu membuat garis potong dan garis mendatar - 6th : sudah membuat gambar yang terintegrasi dan mampu mengontrol dengan baik kemampuan motoriknya, dpt menggambar persegi secara miring, membuat urutan gambar dari bawah ke atas, membuat titik tanpa diputar-putar - 7/8th : mampu membuat serangkaian gambar bergerak, imajinasi anak sifatnya statik dan dalam menggambar tidak ada saling keterkaitan antara gambar yang satu dengan gambar yang lain. ANALISIS DASAR TES GRAFIS a) Elemen Ruang : penempatan individu dalam lingkunganya wilayah tempat membuat gambar b) Elemen bentuk : Kemantapan pribadi dan kematangan c) Elemen gerak - Analisis grafologi - Manifestasi dorongan/kebutuhan yang mengendap - Petunjuk kekuatan - Terdiri dari : tekanan, coretan, shading d) Elemen warna : penekanannya warna hitam dan putih, yaitu hasil goresan pensil dan penggunaan kertas Teori pemilihan warna : - Warna introvert: putih, abu-abu, ungu, biru, hijau - Warna ekstrovert : merah, jingga, kuning, coklat, hitam - Warna yg ekstrim introvert : hitam dan putih - Warna yg ekstrim ekstrovert : putih dan abu-abu Teori pemilihan warna : 1. Merah : hal yang sangat penting, masalah yang terbakar atau bahaya, kemarahan hebat atau reaksi kekerasan, respon emosi yang kuat, kenikmatan kehangatan dan kasih sayang 2. Orange : ekstrovet,mengungkapkan perasaan, responsif thd dunia luar, tegang, berjuang mati2xan, srg mengalami keraguan. 3. Kuning : Ceria, berpijak pd intelektual, tidak malu2x utk meluapkan perasaan 4. Hijau : Tidak suka melakukan represi/emosi cnderung teratur, keseimbangan dlm aspek kepribadian, ego berkembang sehat dan selalu tumbuh dlm kehidupan, cinta perdamaian, merasa aman. 5. Biru : Pendiam, tennang, kontrol emosi baik, “dingin”, biru muda menunjukkan adanya jarak, suka bersembunyi atau menarik diri dari lingkungan 6. Ungu/violet: Mengidentifikasikan dengan gambaran warna ungu, inner emosional dan dorongan afektif, kegelisahan, ketegangan, berani, kebutuhan untuk dikontrol atau memiliki 7. Cokelat: Kenikmatan, merasa aman, fiksasi, ketegaran, kekerasan, perasaan bersalah, berhubungan dengan sifat dasar manusia, berjuang utk mengatasi tindakan merusak dan kembali pada hidup yang sehat 8. Putih : Pasif, kehampaan/kekosongan, krisis kepribadian, kehilangan kontak dengan realitas, perasaan terbuang 9. Abu-abu: Ketidakterlibatan, tekanan, penolakan, kestabilan emosi 10. Hitam: Depresi, tekanan, perasaan yang terakumulasi, penahanan, blocking, inadekuat, penurunan/kemunduran diri, simbol ketidaktahuan, jka suatu bayangan, warna hitam merupakan kemuraman dan ketakutan e) Elemen tema : Isi dari gambar yg dibuat oleh subyek. ADMINISTRASI TES GRAFIS : - Persiapan tes - Materi / bahan2 tes grafis - Pelaksanaan tes grafis - Waktu penyajian tes grafis - Instruksi Persiapan tes : 1. Kesiapan, fisik & psikis : testee dan tester 2. Suasana lingkungan :pencahayaan, sirkulasi udara 3. Hindari stimulus yang mengganggu hasil tes, misal : gambar, lukisan, TV, radio. Materi tes : 1. HVS : folio 80 gr 2. Pensil HB 3. Lembar tes wartegg 4. Penghapus (bila diperlukan, khusus dlm penya- jian scr individual dgn observasi yg mendalam). 5. Alas menggambar : kertas yg agak tebal, papan 4. kayu dgn permukaan halus dan rata). ADMINISTRASI TES BAUM 1. Posisi kertas : vertikal 2. Klasikal: instruksi posisi kertas perlihatkan 3. Subyek diminta menuliskan identitasnya di sudut kanan atas kertas : - Nama - Jenis kelamin - Tingkat pendidikan - Usia - Tanggal tes 4. Subyek diminta untuk membalik kertas dan mendengarkan instruksi selanjutnya dari tester. 5. Gambarlah pohon berkayu, kecuali pohon jenis : - Perdu - Pinus / cemara - Palma / kelapa - Bambu - Beringin - Randu - Pisang - Rumput-rumputan 6. Setelah selesai menggambar pohon, subyek diminta menuliskan nama pohon yang digambarnya di bawah gambar pohon yang dibuatnya. 7. Jika subyek menanyakan posisi kertas, jenis pohon dll, maka dijawab : “ terserah pada anda” 8. Waktu : 5 - 15 menit (klasikal), tdk dibatasi (individual ADMINISTRASI DAP : 1. Posisi kertas : vertical 2. Klasikal: instruksi posisi kertas perlihatkan 3. Subyek diminta menuliskan identitasnya di sudut kanan atas kertas - Nama - Jenis kelamin - Tingkat pendidikan - Usia - Tanggal tes 4. Subyek diminta untuk membalik kertas dan mendengarkan instruksi selanjutnya dari tester 5. Instruksi : “Gambarlah manusia lengkap” 6. Jika subyek menanyakan jenis kelamin gambar, posisi gambar, besar kecilnya gambar, dll. Maka di jawab : “terserah pada anda “. 7. Setelah subyek selesai membuat gambar orang, diminta untuk menuliskan : - Usia yang digambar - Aktivitas/pekerjaan yang dilakukan - Sifat-sifat - siapa orang yg digambarnya, 8. Jika subyek membuat gambar orang yang jenis kelaminnya berbeda dgn jenis kelaminnya (utk kepentingan klinis) : - diminta untuk membuat gambar orang yg jenis kelaminnya - diminta utk menceritakan orang pertama yg digambarnya. 9. Waktu : 5 - 15 menit (klasikal), tdk dibatasi (individual ADMINISTRASI HTP 1. Posisi kertas : horizontal 2. Klasikal: instruksi posisi kertas perlihatkan 3. Subyek diminta menuliskan identitasnya di sudut kanan atas kertas : - Nama - Jenis kelamin - Tingkat pendidikan - Usia - Tanggal tes 4. Subyek diminta untuk membalik kertas dan mendengarkan instruksi selanjutnya dari tester 5. Instruksi : “Gambarlah rumah, pohon dan orang!”. 6. Jika subyek menggunakan posisi kertas vertikal, biarkan saja 7. jika subyek menanyakan posisi kertas ,jawab “terserah”. 8. Waktu penyajian : 5 -15 menit (klasikal), tdk dibatasi (individual) ADMINISTRASI TES WARTEGG 1. Subyek diminta menuliskan identitasnya 2. Instruksi - Pada kertas ini Anda lihat delapan buah segi empat. Setiap segi empat berisi suatu tanda kecil. Tanda-tanda itu tidak memiliki arti khusus, tetapi sekedar merupakan bagian dari gambar yang harus Anda buat di dalam masing-masing segi empat”. - “Anda boleh menggambar apa saja yang Anda inginkan dan Anda boleh mulai dari tanda mana saja yg paling Anda sukai. Anda tidak perlu mengikuti urutan seperti susunan segi empat itu, tetapi saya ingin Anda memberi nomor setiap gambar sesuai dengan urutan sewaktu Anda membuatnya”. - Setelah Anda selesai menggambar, berilah nama masing2 gambar di bawah kotak besar sesuai dengan nomer urutan menggambar. - “ Setelah semua gambar selesai Anda buat, pilihlah - gambar yg paling Anda sukai, paling tdk disukai,paling mudah digambar dan paling sukar digambar dan berilah tanda-tanda di belakang nama gambar : - Gambar yg paling disukai, beri tanda (+) - Gambar yg paling tdk disukai, beri tanda (-) - Tanda yg paling mudah dibuat gambar, beri tanda (M) - Tanda yg paling sukar dibuat gambar,beri tanda (S) Cara memberi motivasi utk subyek : “ Ingatlah, tes ini bukan menguji kemampuan menggambar. Saya tidak meminta Anda membuat gambar yang artistik. Saya hanya ingin tahu bagaimana Anda mengerjakannya dengan cara Anda sendiri. Jadi coba saja sebaik-baiknya tanpa perlu menghiraukan kekurang trampilan Anda. Dan jangan lupa memberi nomor pd setiap gambar”.

Selasa, 17 Desember 2013

PSIKOLOGI MODEL KONSELING TRAIT AND FACTOR

MODEL KONSELING TRAIT AND FACTOR
Sukiman

1. Konseling Sebagai Bentuk Aktivitas Membantu
Kehidupan masyarakat yang kian kompleks seiring dengan perkembangan tuntutan dan harapan yang harus dipenuhi serta kurangnya pengetahuan dan rendahnya keterampilan dalam menghadapi masalah maka untuk memenuhi perkembangan di maksud menjadikan beban hidup semakin berat. Tak hanya orang dewasa dan orang tua saja yang banyak bermasalah, tetapi juga anak-anak banyak terlibat dalam masalah.
Manusia sebagai makhluk hidup yang paling sempurna, ia memiliki akal dan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan demi kelangsungan hidupnya, termasuk dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Maka dalam kehidupan bermasyarakat banyak dijumpai adanya beragam profesi membantu untuk menyelesaikan masalah, termasuk satu di antaranya adalah profesi konseling.
Konseling sebagai salah satu bentuk dari aktivitas membantu untuk menyelesaikan masalah melalui wawancara, yang dilaksanakan dengan menggunakan model pendekatan (tata cara tertentu)  yang sudah dibakukan. Sehingga model pendekatan tertentu yang dipergunakan dalam konseling merupakan suatu penciri dari aktivitas yang disebut konseling, dan sekaligus merupakan pembeda dari bentuk-bentuk bantuan yang diberikan oleh bermacam profesi yang menggunakan wawancara sebagai cara membantu orang lain yang bermasalah.
Ada sejumlah model pendekatan yang dibakukan dalam konseling yang dapat dipilih, dan/atau dikembangkan oleh konselor dalam membantu mengatasi persoalan konselinya. Dikatakan “model pendekatan”, hal itu memiliki arti bahwa untuk membantu penyelesaian masalah konseli, konselor mencoba mendekati (menyentuh)
aspek tertentu dalam diri konseli, agar aspek yang disentuh tersebut dapat berkembang dan diberdayakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Oleh karena itu dalam konseling dikenal ada kelompok model konseling yang dapat dikelompokkan ke dalam pendekatan kognitif, afektif dan pendekatan tingkah laku. Kelompok pendekatan dalam konseling di maksud adalah:
Sukiman

1. Konseling Sebagai Bentuk Aktivitas Membantu
Kehidupan masyarakat yang kian kompleks seiring dengan perkembangan tuntutan dan harapan yang harus dipenuhi serta kurangnya pengetahuan dan rendahnya keterampilan dalam menghadapi masalah maka untuk memenuhi perkembangan di maksud menjadikan beban hidup semakin berat. Tak hanya orang dewasa dan orang tua saja yang banyak bermasalah, tetapi juga anak-anak banyak terlibat dalam masalah.
Manusia sebagai makhluk hidup yang paling sempurna, ia memiliki akal dan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan demi kelangsungan hidupnya, termasuk dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Maka dalam kehidupan bermasyarakat banyak dijumpai adanya beragam profesi membantu untuk menyelesaikan masalah, termasuk satu di antaranya adalah profesi konseling.
Konseling sebagai salah satu bentuk dari aktivitas membantu untuk menyelesaikan masalah melalui wawancara, yang dilaksanakan dengan menggunakan model pendekatan (tata cara tertentu)  yang sudah dibakukan. Sehingga model pendekatan tertentu yang dipergunakan dalam konseling merupakan suatu penciri dari aktivitas yang disebut konseling, dan sekaligus merupakan pembeda dari bentuk-bentuk bantuan yang diberikan oleh bermacam profesi yang menggunakan wawancara sebagai cara membantu orang lain yang bermasalah.
Ada sejumlah model pendekatan yang dibakukan dalam konseling yang dapat dipilih, dan/atau dikembangkan oleh konselor dalam membantu mengatasi persoalan konselinya. Dikatakan “model pendekatan”, hal itu memiliki arti bahwa untuk membantu penyelesaian masalah konseli, konselor mencoba mendekati (menyentuh)
aspek tertentu dalam diri konseli, agar aspek yang disentuh tersebut dapat berkembang dan diberdayakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Oleh karena itu dalam konseling dikenal ada kelompok model konseling yang dapat dikelompokkan ke dalam pendekatan kognitif, afektif dan pendekatan tingkah laku. Kelompok pendekatan dalam konseling di maksud adalah:

PERSPEKTIF KONSELING



PSIKOLOGI KONSELING


Sebagai suatu kegiatan profesional dan ilmiah, pelaksanaan konseling bertitik tolak dari teori-teori yang dijadikan sebagai acuannya. Pada umumnya teori diartikan sebagai suatu pemyataan prinsip-prinsip umum yang didukung oleh data untuk menjelaskan suatu fenomena. Dengan demikian, maksud suatu teori adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena. Menurut Stefflre dan Matheny (Shertzer & Stone, 1980, 232) pada umumnya teori mempunyai dua unsur yaitu kenyataan dan keyakinan. Kenyataan adalah data perilaku yang dapat diamati dan dijelaskan, sedangkan keyakinan adalah cara individu memandang data dengan penjelasan yang dapat diterima secara meyakinkan.
 Lahirnya suatu teori mempunyai kaitan dasar pribadi, sosiologis, dan filosofis. Suatu teori mencerminkan kepribadian pembuatnya, sebagai suatu hasil proses waktu, kondisi kekuatan sosial dan budaya, dan filsafat yang dianut pembuatnya. Menurut Stefflre dan Matheny (Shertzer & Stone, 198: 233) stratu teori yang baik mempunyai kriteria sebagai berikut (1) Jelas, yaitu dapat dipahami, dan tidak mengandung pertentangan di dalamnya, (2) Komprehensif, yaitu dapat menjelaskan fenomena secara menyeluruh, (3) Eksplisit, artinya setiap penjelasan didukung oleh bukti-bukti yang dapat diuji, (4) “Parsimonius", artinya 'menjelaskan data secara sederhana dan jelas, (5) dapat menurunkan penelitian yang bermanfaat. Dengan demikian maka suatu teori konseling yang tidak memenuhi kiteria di atas, dapat dikatakan sebagai teori yang kurang baik atau kurang lengkap.